Karhutla Karhutla 2019 PT Adei Plantation

Saksi: Blok 34 Direplanting April 2021

Sidang Ke-8 Agenda: Pemeriksaan Saksi

PN Pelalawan, Selasa, 18 Agustus 2020—Majelis Hakim Bambang Setyawan, Joko Ciptanto dan Rahmat Hidayat Batubara kembali periksa sejumlah saksi, perkara kebakaran hutan dan lahan, terdakwa PT Adei Plantation and Industry diwakili Direktur Goh Keng Ee. Saksi yang hadir mulai manager hingga mandor. Pemeriksaan dua tahap.

Manager Divisi 2 Sugiarto, berada di perumahan karyawan PT Adei saat dapat kabar kebakaran dari asisten manager, 7 Septemer 2019. Jaraknya lebih kurang 5 kilometer dari tempat kejadian. Dia meneruskan kabar itu ke senior manager dan minta bantuan lewat whatsapp grup. Sugiarto langsung bawa anggota dan satu mesin robin.

Tiba di lokasi pukul 16.45, api sudah setinggi pohon sawit umur 20 tahun. Sedangkan asap sagat tebal dari bawah tanah dan sulit ditembus. Sumber api dari 3 pokok sawit tepi parit ke dalam. Di sana sudah ada 3 anggota patroli berupaya padamkan api dengan ember. Angin sangat kencang dan cuaca cukup panas, sehingga api sulit dikendalikan. Sugiarto mencari sumber air sembari  menunggu bantuan datang. Banyak parit kering kecuali parit yang berbatasan dengan kebun KKPA.

Setengah jam di sana, peralatan ditambah dengan 3 unit mesin robin, 6 unit mesin shibaura dan 6 tangki air kapasitas 5.000 liter. Satu jam kemudian tiba 3 unit alat berat yang sedang bekerja di sekitar blok terbakar. Satu alat buat parit dan 2 lagi buat sekat api sambil menumbangkan pohon-pohon sawit yang terlanjur terbakar. Itu untuk mengurangi asap dan mempercepat padamkan api. Malamnya ditambah 7 alat berat lagi.

Pemadaman juga dibantu 6 regu dari divisi lain serta perusahaan sekitar. Divisi 2 hanya memiliki 8 anggota regu pemadam kebakaran. Hanya dua memiliki sertifikasi khusus. Sedangkan 7 anggota regu lainnya ditempatkan pada divisi 1. Dua divisi ini bagian dari Kebun Nilo Barat 1 seluas lebih kurang 2.800 hektar. Blok 34 seluas 16 hektar dan terbakar 4,5 hektar.

Blok 34, Divisi 2, yang terbakar memang rawan kebakaran. PT Adei telah menetapkannya dalam peta rawan kebakaran. Perusahaan rutin memantau titik panas. Sebelum kebakaran mereka  punya sejumlah peralatan antara lain, embung ukura 8x6x2 meter 4 unit; menara api 1; speed boat, mobil tangki, mobil patroli. Peralatan itu disebut sesuai standar. Tiap 2 minggu sekali dicek dan mesin-mesin dipastikan dalam kondisi baik tiap minggu sekali.

“Kami sudah sesuaikan dengan AMDAL,” kata Sugiarto.

Memasuki musim kemarau, perusahaan tiap pagi rutin sosialisasi pada pekerja termasuk masyarakat. Melarang membuat sumber api termasuk membakar sampah. Regu pemadam kebakaran dapat pelatihan internal tiap tahun meski tidak memiliki sertifikasi.

Sawit di atas blok 34 yang terbakar dibilang masih produktif. Namun, dia sudah masuk rencana replanting pada April 2021. Sebab, sudah terjadi penurunan produksi dan kerapatannya sudah dibawah standar.

Kata Sugiarto, perusahaannya tidak meggunakan cara bakar. Mereka mengikuti anjuran Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Sebab, minyak sawit mereka tidak akan diterima bila kedapatan praktik membakar dalam pengelolaan kebun. Mereka menghadapi audit tiap tahunnya oleh asosiasi organisasi berbagai sektor indsutri kelapa sawit tersebut. “Kalau kedapatan kita akan dikeluarkan dari organisasi itu.”

Asisten Manager Iwan Santoso, beritahu Sugiarto Blok 34 terbakar. Dia bergegas ke tempat kejadian dan bersama Sugiarto  mengatur posisi regu pemadam kebakaran yang akan bekerja. Sebelum terjadi kebakaran, Iwan sudah mengetahui kekurangan sarana prasarana. Dia juga sudah beritahu Sugiarto.

Dia sebut, sebelum blok itu terbakar mereka sedang menyelesaikan dua menara api. Sehingga sekarang sudah berdiri 3 menara di Divisi 2. Iwan sehari-hari mengawasi pekerjaan dan operasional divisi itu.

Mandor Perawatan Ismail Harun, tidak mengetahui peristiwa kebakaran sebab, saat itu berada di rumah dan tidak ikut bantu pemadaman. Dia baru melihat bekas kebakaran beberapa hari kemudian.

Majelis minta jaksa menghadirkan saksi yang benar-benar mengetahui perisitiwa dan memiliki nilai pembuktian, guna menghemat waktu persidangan.

Grup Manager Indra Gunawan, mengkoordinir seluruh manager pada saat terjadinya kebakaran. Memastikan peralatan dan tindakan pemadaman. Mereka sudah mengetahui Blok 34 rawan kebakaran karena sudah termuat dalam peta yang wajib diawasi. Mereka telah memasang rambu-rambu, menyiapkan menara, embung, bendungan parit atau kanal, patroli, pemantauan hot spot dan rutin beri laporan di grup siaga Karhutla.

Menara api 1,7 kilometer dari titik kebakaran. Tiap divisi memilik 1 menara. Tiap kebun ada gudang peralatan pemadam kebakaran. Gudang ada pada tiap kompleks karyawan karena untuk menjamin keamanan. Gudang terdekat dari tempat kejadian sekitar 4,5 kilometer.

Luas kebun PT Adei 12.860 hektar. Memiliki 8 menara pantau api sebelum terjadi kebakaran pada 7 September 2019. Setelah itu berdiri 17 menara lagi setinggi 15 meter. Tiap blok memiliki kanal selebar 4 meter dan panjangnya menyesuaikan blok. Katanya, volum air di kanal lebih banyak ketimbang dalam embung.

Indra bertanggungjawab dalam urusan sosialisasi dan membangun kerjasama pada masyarakat. Seperti kemitraan dalam membangun kebun. Hubungan itu juga dijalin pada pemerintah. Seperti rutin beri laporan kegiatan kebun, mulai dari penanaman hingga produksi termasuk kesiapan antisipasi kebakaran per 3 bulan. PT Adei juga menjalin kerjasama dalam mengatur tinggi muka air. Tiap musim kemarau, katanya, Disbun selalu mengecek ketersediaan peralatan dalam gudang.

PT Adei mengacu pada Permentan 5/2018. Sebelum ada aturan ini mereka mengikuti petunjuk Dinas Perkebunan. Kata Indra, laporan kegiatan perkebunan mereka tak pernah ada jawaban atau koreksi. Paska kebakaran, baru banyak pihak Dinas terkait turun mengecek.

Senior Manager Kebun Nilo Barat 1 Juhari, berada di Divisi 1 saat mendapat kabar kebakaran di Blok 34 dari Sugiarto. Jaraknya sekitar 10 kilometer ke tempat kejadian. Dia tiba di lokasi pukul 19.00. Sekitar 120 orang sibuk memadamkan api dengan mesin shibaura, robin dan mobil tangki air. Selain regu inti, pemadaman juga dibantu regu cadangan yang merangkap karyawan.

“Saya memastikan semua peralatan tersedia dan regu pemadam kebakaran bekerja sesuai prosedur,” katanya.

Sawit Blok 34 masih produktif dan diperkirakan baru akan di replanting sekitar 2 tahun lagi. Katanya, ada 14 langkah replanting tapi tidak dengan cara bakar. Kebakaran dinilai tidak menghasilkan sawit yang baik. Mereka justru rugi Rp 342 juta dari biaya yang dikeluarkan untuk pemadaman api. Untuk penanaman kembali mereka perkirakan dengan biaya Rp 120 juta.

Sidang dilanjutkan, Selasa 25 Agustus 2020.#Suryadi

About the author

Nurul Fitria

Menyukai dunia jurnalistik sejak menginjak bangku Sekolah Menengah Atas. Mulai serius mendalami ilmu jurnalistik setelah bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Mahasiswa Universitas Riau pada 2011. Sedang belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang tulis menulis, riset dan analisis, fotografi, videografi dan desain grafis. Tertarik dengan persoalan budaya, lingkungan, pendidikan, korupsi dan tentunya jurnalistik.

Video Sidang

 

Untuk video sidang lainnya, sila kunjungi channel Youtube Senarai dengan mengklik link berikut Senarai Youtube